sejarah , mitos kepala watu ulo di grajagan banyuwangi

seruni atau yang pada awalnya di namai serunai merupakan sebuah nama desa di lereng gunung raung tepatnya di kecamantan babat yang bersebelahan dengan desa sangkur , seperti halnya desa sangkur yang memiliki situs batu sangkur , di seruni juga terdapat sebuah situs yaitu situs watu ulo yang banyak menjadi tanda tanya tentang asal usul watu ulo tersebut

sebelumnya situs watu ulo ini merupakan batu yang berbentuk badan ular utuh tanpa kepala yang menjalar dari bawah jurang ke atas dengan jelas , namun kini hanyalah tinggal tumpukan batu biasa yang di penuhi rumput menjalar dan keaslian watu ulo ini sudah tidak kelihatan.

sejarah , mitos dan asal usul badan dan kepala situs watu ulo

menurut cerita yang beredar di masyarakat , pada jaman kerajaan prabu tawang alkisah terdapat janda yang juga seorang petani yang bernama sayuwetan , yang hidup pas pas an hanya mengandalkan hasil padi untuk memberi nafkah ketiga anaknya , sayuwetan dan ketiga anaknya setiap hari rajin ke sawah untuk mengharapkan hasil dari padi yang di tanam dan di rawatnya

di suatu hari seperti biasanya sayuwetan dan ketiga anaknya kesawah untuk memotong padi yang sudah menguning dengan membawa gampuh  , namun tiba tiba datanglah seekor ular raksasa yang baru selesai bertapa dari gunung raung mendekati ketiga anak sayuwetan dengan sangat bernafsu memangsa satu persatu anak sayuwetan tanpa sepengetahuan sayuwetan , namun ketika hendak memangsa anak ke dua , si anak pertama berlari mendekati sayuwetan sambil berteriak untuk memberitahu bahwa adiknya di mangsa ular besar , namun karena kencangnya angin , terikan tersebut tidak terdengar jelas oleh sayuwetan , sayuwetan malah menjawab ” sebentar , ibu sedang mengerjakan ini ” sambil memotong padi karena di kira anaknya meminta makan , dan habisla semua anaknya di mangsa oleh ular besar tersebut dan sayuwetan kaget kenapa tidak terdengar lagi suara anak2nya.pelan2 sayuwetan mendekati pondok mau melihat anak2nya dan mau membuka bontotan yang dibawanya dari rumah untuk dimakan bersama-sama.
Tapi alangkah terkejutnya sayu wetan ketika yang ada di pondok adalah seekor ular yang sangat besar,dengan perut buncit yang telah habis memakan anak-anaknya.dengan geram sayuwetan berkata”hai ular, kita sama2 bertapa tetapi mengapa kamu melukai orang yang bertapa”.kau telah memakan ketiga anakku.maka dengan ini bertapamu semuanya sudah luntur.
Maka terjadilah pertarungan antara dua mahluk yang sama2 saling berpuasa .mencoba menentukan siapa sebenarnya yang layak dikatakan “keyakinan hati yang putih pada yang maha kuasa” akhirnya dengan keyakinan hati yang putih pada yang maha kuasa sayuwetan menggerakkan “sepuh gampung” yang biasa untuk memotong padi untuk digunakan sebagai senjata.mendadak sepuh gampung bergerak sendiri mengejar-ngerjar ular tersebut dan memotong-motong tubuh sang ular,sang ular melolong minta ampun.tapi sepuh gampung terus mencincang tubuhnya.ketika memotong leher ular kepala ular tersebut meloncat jauh.seketika tubuh ular menjadi batu tubuhnya tetap di desa seruni kepala ular terbang kedesa wastulan.